Pada masa hidup Kartini, wanita
tidak memiliki derajat yang sama dengan pria. Wanita secara umum hanya
diperbolehkan mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus seluruh keperluan
rumah, memasak, mengurus anak, dan lain sebagainya. Bahkan pada usia 12 tahun
seorang anak perempuan sudah harus siap untuk dipingit. Mengenyam pendidikan
adalah sebuah hal yang hampir dianggap mustahil bagi wanita pada zaman itu.
Hanya segelintir wanita yang dapat mengenyam pendidikan. Salah satunya adalah
Kartini karena dia berasal dari keluarga bangsawan.Namun bagi seorang bangsawan
sekalipun, Kartini hanya diperbolehkan bersekolah hingga usia 12 tahun dan
kemudian harus diam di rumah untuk dipingit. Namun semangat untuk belajar tetap
menyala dalam diri Kartini kecil. Kartini berharap dapat menyetarakan hak dan
status sosial kaum wanita dengan kaum pria. Dia ingin setiap kaum wanita
pribumi di Indonesia bisa memiliki kesempatan yang sama seperti para wanita
Eropa dalam dunia pendidikan. Kartini sadar betul bahwa pendidikan adalah jalan
keluar untuk memajukan kaum wanita Indonesia pada masa itu.
Kartini rajin
membaca berbagai koran, majalah dan buku-buku yang membuka wawasannya mengenai
pola pikir wanita Eropa. Dia rajin membaca buku karya Louis Coperus yang
berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt, dan buku lainnya.
Berbagai sumber tersebut membuat Kartini memiliki wawasan yang luas.
Pengetahuan tersebut kemudian menyadarkan Kartini akan ketertinggalan kaumnya
di Indonesia. Dia sampai pada sebuah pemikiran untuk meningkatkan derajat
wanita di Indonesia. Anak-anak perempuan pribumi boleh dikatakan tidak punya
kesempatan menempuh pendidikan formal saat itu. Di kalangan pribumi, hanya anak
kaum bangsawan/pamong praja yang bisa bersekolah, itu pun biasanya hanya yang
laki-laki saja. Kartini merekrut kedua adik perempuannya, Kardinah dan Rukmini,
untuk turut mengajar di sekolah yang segera kewalahan menampung anak-anak
perempuan yang ingin belajar. Agar dapat menerima sebanyak mungkin murid, sekolah
sampai dibuka untuk beberapa kelas dalam sehari.
Pada tanggal 13 September 1904, Kartini melahirkan anak
pertamanya dan satu-satunya, RM Soesalit. Namun proses persalinannya cukup
sulit, dan Kartini mengalami pendarahan cukup hebat selama berhari-hari
sehingga pada 17 September 1904 Kartini tutup usia dalam usia 25 tahun.
Sepeninggal Kartini, sekolah khusus perempuan yang didirikan berjalan tersendat
karena hilangnya sang inspirator. Kedua adiknya yang semula mengelolanya, tidak
mampu menampung semua calon murid yang ada.
Kemajuan
berarti justru diteruskan oleh pasangan suami istri Van Deventer yang dalam
sejarah dikenal sebagai penganjur “politik etis” atau “politik balas budi” yang
memberikan kesempatan pendidikan cukup luas bagi anak-anak jajahan. pasangan
Van Deventer berusaha terus mendesak pemerintah Hindia Belanda mengalokasikan
dana lebih banyak untuk pendidikan. Selanjutnya, karena merasa tidak sabar
dengan perkembangan yang ada, maka Van De Venter mengeluarkan uang sendiri dan
berusaha menggalang dana dari berbagai kalangan guna mendirikan sebuah yayasan
pendidikan di Semarang pada tahun 1012. Yayasan itu dinamai Yayasan Kartini.
Yayasan inilah yang membuka sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak perempuan
pribumu di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan
beberapa kota lainnya, yang disebut “Sekolah Kartini”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar